Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) membuka peluang kolaborasi riset internasional dengan The University of Queensland (UQ), Australia. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat jejaring global sekaligus mendorong riset lintas negara di bidang sosial dan humaniora.
Penjajakan kerja sama dilakukan melalui pertemuan daring yang berfokus pada pengenalan kelembagaan serta eksplorasi peluang riset dan pendanaan bersama. Forum tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan untuk merespons tantangan global yang dinilai semakin kompleks.
Pelaksana Tugas Kepala OR IPSH BRIN, Muhammad Najib Azca, menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk meningkatkan kualitas riset nasional. “Pertemuan ini menjadi ruang untuk saling mengenal, berbagi pengetahuan, sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi yang bermanfaat bagi kedua institusi,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Dalam paparannya, Najib menjelaskan profil OR IPSH BRIN, termasuk fokus riset, kapasitas peneliti, serta program yang tengah berjalan. Dari pihak UQ, Associate Dean (Research) Faculty of Humanities, Arts, and Social Sciences, Kim Wilkins, memaparkan kekuatan riset institusinya serta potensi kerja sama yang dapat dikembangkan.
Pertemuan turut dihadiri sejumlah akademisi UQ, antara lain Zane Goebel, Greta Nabbs-Keller, Melissa Curley, dan Ian Hardy. Dari BRIN, hadir para kepala pusat riset dan peneliti lintas bidang untuk memetakan irisan kepentingan riset.
Sejumlah isu strategis mengemuka sebagai peluang kolaborasi, di antaranya dinamika politik lokal, keamanan maritim kawasan, kebijakan pendidikan, komunikasi dan budaya, hingga isu sosial kontemporer di Asia-Pasifik. Kedua pihak juga menyoroti pentingnya skema pendanaan bersama guna menjaga keberlanjutan riset kolaboratif.
Melissa Curley menilai kerja sama dapat dikembangkan pada isu hak asasi manusia di kawasan Asia-Pasifik, sekaligus menegaskan kuatnya relasi akademik Indonesia–Australia. “Kami percaya kolaborasi ini akan semakin memperkuat hubungan antar universitas, termasuk melalui jejaring alumni yang telah berkontribusi di berbagai sektor,” katanya.
Sementara itu, Ian Hardy menyoroti peluang kolaborasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk mobilitas mahasiswa dan pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif. “Kami berharap lebih banyak mahasiswa Indonesia dapat memperoleh pengalaman akademik di UQ melalui kolaborasi ini,” ujarnya.
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu ditutup dengan komitmen kedua institusi untuk menindaklanjuti pembahasan menjadi kerja sama konkret, baik melalui riset bersama, pertukaran akademisi, maupun pengembangan program kemitraan internasional.
Kolaborasi BRIN dan UQ diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset sosial dan humaniora serta mendorong lahirnya solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam menjawab tantangan global secara inklusif dan berkelanjutan.

