dr Maria Caecilia Stevi Harman Soroti Isu Kesehatan dan Sosial dalam Peran di DPD RI

dr Maria Caecilia Stevi Harman Soroti Isu Kesehatan dan Sosial dalam Peran di DPD RI

Peralihan dari dunia profesional ke ranah kebijakan publik kerap menuntut pengalaman lapangan, pemahaman masalah secara menyeluruh, serta dorongan untuk menghadirkan perubahan yang lebih luas. Hal itu tercermin pada dr. Maria Caecilia Stevi Harman, dokter yang kini menjadi anggota DPD RI dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Stevi bertugas di Komite III DPD RI yang membidangi kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, serta perlindungan anak. Ia menempuh pendidikan Dokter Umum (S1) di Universitas Indonesia (UI), lalu melanjutkan studi Penelitian Medis (Medical Research) di Monash University, Australia. Ia juga disebut sebagai putri Benny K. Harman, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat.

Pengalaman Stevi di dunia medis menjadi fondasi dalam melihat persoalan publik. Saat menjalani masa internship sebagai dokter umum di SK Lerik Kupang, Puskesmas Pasir Panjang, dan Puskesmas Manutapen, ia berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat di layanan kesehatan tingkat pertama. Dari situ, ia menilai persoalan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial dan ekonomi.

Dalam keterangan tertulis pada Selasa (28/4/2026), Stevi menyampaikan, “Saya tidak sekadar mewarisi sebuah nama belakang keluarga; saya mewarisi tanggung jawab moral yang besar untuk membedah penyakit sosial masyarakat dengan instrumen kebijakan publik.”

Ia menekankan pentingnya ketepatan dalam merumuskan kebijakan, dengan menarik pelajaran dari dunia klinis. Menurutnya, kesalahan diagnosis pada pasien dapat berakibat fatal, dan prinsip serupa berlaku pada kebijakan publik. Ia menilai kekeliruan dalam perumusan kebijakan bisa berdampak luas, terutama di wilayah seperti NTT yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan dasar.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Stevi menyebut upaya perbaikan tidak berhenti pada gagasan di tingkat kebijakan. Ia juga mendorong inisiatif yang menyentuh langsung masyarakat.

Salah satu kegiatan yang disorot adalah keterlibatannya dalam pelatihan fotografi dan videografi bagi anak muda di Manggarai Barat. Program itu digelar sebagai respons atas maraknya kasus kekerasan seksual di kalangan generasi muda. Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teknik dasar pengambilan gambar dan video, tetapi juga didorong memanfaatkan media visual untuk edukasi dan kampanye sosial, sekaligus menjadi ruang ekspresi positif.

Selain isu sosial, Stevi juga menaruh perhatian pada akses layanan kesehatan. Ia menyoroti masih banyak warga kurang mampu yang belum dapat memanfaatkan layanan BPJS Kesehatan secara optimal. Salah satu kendalanya, menurut dia, adalah persoalan administratif yang berkaitan dengan integrasi data yang belum sepenuhnya sinkron.

Kondisi itu disebut berdampak pada masyarakat yang seharusnya menerima manfaat, tetapi justru menghadapi hambatan saat mengakses layanan. Stevi menilai persoalan tersebut menunjukkan perlunya perbaikan sistem, terutama dalam validasi dan sinkronisasi data antarinstansi, agar layanan kesehatan lebih tepat sasaran dan menjangkau warga yang membutuhkan.