Dua Novel Okky Madasari yang Mengangkat Isu Sosial Politik dan Kemanusiaan

Dua Novel Okky Madasari yang Mengangkat Isu Sosial Politik dan Kemanusiaan

Okky Madasari dikenal sebagai penulis Indonesia yang kerap mengangkat tema sosial politik, kemanusiaan, dan budaya dalam karya-karyanya. Novel-novelnya juga sering dibingkai dengan sentuhan sejarah. Dari sejumlah karyanya, dua judul berikut kerap direkomendasikan untuk pembaca yang ingin menelusuri isu-isu sosial melalui sastra.

1. Entrok

Novel Entrok berlatar masa Orde Baru dan berfokus pada kisah Marni dan Rahayu, ibu dan anak yang memiliki pandangan berbeda soal kepercayaan. Marni digambarkan sebagai perempuan Jawa yang buta huruf, masih memercayai dan memuja leluhur, serta menjalankan sesajen sebagai cara menyampaikan harapan. Ia tidak menaruh keyakinan pada tuhan-tuhan yang dianggap datang dari negeri jauh.

Sementara itu, Rahayu tumbuh dalam generasi baru yang karakternya banyak dibentuk oleh sekolah. Ia digambarkan sebagai pemeluk agama yang taat, menjunjung akal sehat, dan menolak keyakinan leluhur yang dianut ibunya. Perbedaan itu membuat keduanya saling menilai secara keras: Marni menganggap Rahayu sebagai manusia yang tidak memiliki jiwa, sedangkan Rahayu memandang Marni sebagai pendosa.

Di luar konflik keyakinan, cerita juga menempatkan keduanya dalam pengalaman sosial yang lebih luas. Marni dan Rahayu, seperti masyarakat Indonesia pada masa itu, digambarkan sama-sama merasakan penderitaan di bawah kepemimpinan Soeharto.

2. 86

Novel 86 menceritakan Arimbi, pegawai rendahan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang bekerja sebagai juru ketik. Arimbi digambarkan polos dan lugu, tidak memahami sepenuhnya lingkungan kerjanya. Ia berasal dari kampung, dan setelah lulus kuliah langsung melamar menjadi pegawai negeri.

Bagi orang-orang di kampungnya, terutama orang tuanya, Arimbi menjadi kebanggaan. Mereka meyakini pegawai negeri seperti Arimbi dapat melakukan apa saja. Namun, mereka tidak mengetahui Arimbi hanyalah pegawai lugu yang berada di tengah lingkungan yang digambarkan semakin hari semakin tidak tahu malu. Seiring waktu, Arimbi pun diceritakan berubah dan menjelma menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

Dalam novel ini, Okky Madasari mengangkat tema yang disebut berani dengan menyoroti sisi-sisi gelap kehidupan, mulai dari korupsi, praktik suap, narkotika, hingga penyimpangan seksual. Kisahnya mengikuti perjalanan Arimbi dari sosok lugu hingga akhirnya ikut terjun ke dalam dunia korupsi.

Salah satu kutipan sinopsis yang disorot berbunyi, “Tak ada yang tak benar, kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan, kalau semua sudah menganggap sebagai kewajaran”. Kutipan itu menjadi penegas arah kritik sosial yang dibawa cerita.