Film terbaru sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell, dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026. Ini menjadi karya ke-12 Joko bersama Come and See Pictures, sekaligus menawarkan pengalaman sinematik baru lewat perpaduan horor dan komedi.
Sejak diperkenalkan, film ini disebut mendapat sambutan positif dari publik internasional. Ghost in the Cell mencuri perhatian saat world premiere di Berlinale 2026 dan dilaporkan telah dibeli hak tayangnya di 86 negara.
Antusiasme juga terlihat di dalam negeri. Film tersebut lebih dulu diputar di 16 kota di Indonesia, dan seluruh tiket pemutaran dilaporkan habis terjual.
Joko Anwar dikenal kerap menggabungkan berbagai genre dalam satu karya. Dalam film ini, ia memadukan unsur komedi, aksi, dan horor, seraya mengangkat isu-isu yang dinilai relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, mulai dari persoalan lingkungan, agama, hingga politik. Joko menyebut pendekatan absurd dalam film ini sebagai refleksi situasi Indonesia yang ia anggap penuh kejanggalan.
“Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” ujar Joko dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 11 April 2026.
Melalui film ini, Joko juga menekankan adanya harapan di tengah sistem yang dianggap kacau. Ia menyatakan masih percaya ada masyarakat yang jujur dan berani bersuara demi perubahan.
“Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi,” katanya.
Semangat tersebut menjadi benang merah dalam cerita. Film ini mengisahkan para napi dan sipir yang akhirnya bekerja sama untuk menghadapi ‘hantu’ yang sebenarnya. Di sisi lain, Ghost in the Cell turut menyoroti isu korupsi dan ketimpangan dalam sistem hukum, termasuk gambaran tentang seorang koruptor yang tetap memiliki privilese meski sedang menjalani hukuman.
Produser Tia Hasibuan menyatakan, meski ceritanya lekat dengan konteks Indonesia, tema yang diangkat bersifat universal. Menurutnya, persoalan sistem yang korup dan harapan akan perubahan relevan dengan berbagai negara.
Ghost in the Cell dibintangi sejumlah aktor Indonesia dan talenta Asia Tenggara, di antaranya Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Tora Sudiro, dan Rio Dewanto. Abimana, yang memerankan Anggoro, menjelaskan tokohnya memiliki keterikatan kuat dengan keluarga dan membentuk ‘keluarga’ baru pilihannya meski berada di dalam penjara.
Ia juga menyoroti kompleksitas adegan aksi dalam film tersebut. Salah satu adegan melibatkan ratusan pemain dan direkam dengan teknik long take, sehingga membutuhkan koordinasi serta pemahaman tempo yang matang.
Dengan perpaduan cerita, isu sosial, dan jajaran pemain, film ini diharapkan menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong penonton untuk berefleksi.

