Film "Para Perasuk" Angkat Tradisi Pesta Sambetan di Desa Latas dan Kisah Para Calon Perasuk

Film "Para Perasuk" Angkat Tradisi Pesta Sambetan di Desa Latas dan Kisah Para Calon Perasuk

Judul film Para Perasuk sekilas bisa memunculkan dugaan bahwa ceritanya berkutat pada tema kesurupan seperti film horor pada umumnya. Namun, film ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menjadikan tradisi desa sebagai pusat cerita.

Proyek Para Perasuk pertama kali diumumkan pada akhir 2024 dan sempat dijadwalkan tayang pada 2025. Jadwal tersebut kemudian bergeser hingga film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 23 April 2026. Sebelum rilis di Indonesia, film ini juga sempat diputar di Festival Film Internasional Sundance dengan judul internasional Levitating.

Berdasarkan trailer yang diunggah di YouTube, film ini berlatar Desa Latas, sebuah desa yang memiliki tradisi kesurupan yang dikenal sebagai Pesta Sambetan. Dalam tradisi itu, roh yang merasuk ke tubuh manusia bukan roh manusia, melainkan roh hewan.

Cerita Pesta Sambetan memperkenalkan dua peran utama, yakni Perasuk dan Pelamun. Perasuk menggunakan alat musik untuk membawa roh hewan masuk ke dalam diri Pelamun. Disebutkan ada setidaknya 20 jenis roh hewan yang dapat hadir dalam ritual tersebut, di antaranya roh bulus, kutu, kerbau, kodok, semut, dan lainnya.

Tokoh utama film ini adalah Bayu (Angga Yunanda), calon Perasuk di Desa Latas yang bersiap mengikuti kompetisi pusat untuk menjadi perasuk terbaik. Dalam persaingan itu, Bayu berhadapan dengan Pawit (Chicco Kurniawan) dan Ananto (Bryan Domani), dengan bantuan Guru Asri (Anggun). Sementara itu, Laksmi (Maudy Ayunda) digambarkan sebagai Pelamun yang menjalani peran tersebut untuk menyembuhkan trauma masa lalunya.

Deretan pemain yang terlibat juga mencakup sejumlah nama yang dikenal luas, termasuk Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun, Chico Kurniawan, dan Bryan Domani.

Pada bagian awal hingga pertengahan film, alur cerita berfokus pada pengenalan latar dan karakter. Cerita juga diselingi komedi yang muncul dari situasi Bayu yang masih belajar menjadi Perasuk dan kerap kesulitan berkonsentrasi, sehingga memunculkan momen-momen yang dapat mengundang tawa penonton.