Ghost in the Cell Tayang April 2026, Joko Anwar Padukan Horor Lapas dan Kritik Sistem Peradilan

Ghost in the Cell Tayang April 2026, Joko Anwar Padukan Horor Lapas dan Kritik Sistem Peradilan

Film terbaru garapan Joko Anwar, Ghost in the Cell, resmi tayang pada April 2026. Mengambil latar lembaga pemasyarakatan, film ini menawarkan ketegangan khas horor sekaligus menyelipkan kritik sosial terhadap sistem peradilan di Indonesia.

Cerita berpusat pada sosok entitas jahat yang mengincar orang-orang dengan aura negatif, terutama mereka yang dikelilingi kemarahan. Melalui premis tersebut, film ini menegaskan pesan bahwa energi negatif dapat mengundang keburukan bagi diri sendiri, dengan gagasan yang dirangkum dalam kalimat: “hantu pun bisa marah melihat kejahatan manusia.”

Latar utama film berada di Lapas Labuan Angsana yang digambarkan sebagai dunia tertutup, tempat penyiksaan terjadi atas nama keadilan. Narasi film menekankan bahwa tidak semua narapidana digambarkan sebagai pihak yang sepenuhnya jahat, sementara para sipir justru ditampilkan kerap bertindak lebih kejam.

Ghost in the Cell juga mengangkat isu-isu yang disebut dekat dengan realitas, termasuk sosok aktivis yang di masa tua berubah menjadi koruptor. Hierarki kuasa di dalam penjara ditampilkan melalui relasi antara sipir korup dan pemimpin narapidana yang bersekutu untuk menjaga citra bersih sekaligus mempertahankan kontrol.

Dari sisi visual, film ini menghadirkan adegan gore yang eksplisit. Namun, kengerian tidak hanya dibangun lewat darah dan kekerasan, melainkan juga melalui aspek psikologis. Salah satu elemen yang disorot adalah kemunculan lubang-lubang yang menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi penonton dengan trypophobia atau fobia terhadap objek berlubang banyak. Visual tersebut diasosiasikan dengan pembusukan dan parasit, serta dipakai sebagai simbol kejahatan yang menggerogoti moralitas karakter.

Deretan pemain yang terlibat antara lain Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra. Penampilan Aming menjadi perhatian karena ia memerankan karakter psikopat yang dingin dan mengancam, berbeda dari peran humor yang lebih sering melekat pada dirinya.

Meski atmosfer film cenderung gelap, Joko Anwar menyisipkan humor berupa sindiran melalui dialog tentang isu sosial di Indonesia. Beberapa kutipan yang muncul antara lain, “Preman masuknya nggak di penjara, masuknya ormas,” serta, “Tapi kan lu tinggal di Indonesia, bukan Norwegia.” Humor tersebut menjadi jeda di tengah intensitas adegan penyiksaan yang ditampilkan.

Film ini disebut masih memiliki kelemahan, seperti dialog yang repetitif dan kedalaman bahasa yang kurang di sejumlah bagian. Kendati demikian, pesan utamanya tetap mengemuka: ketakutan terbesar bukan semata makhluk halus, melainkan sistem yang korup dan hilangnya kendali diri manusia. Dengan pendekatan itu, Ghost in the Cell mengajak penonton merenungkan absurditas sekaligus tragedi yang dirasakan relevan dengan kondisi sosial saat ini.