Jakarta — Pernyataan sejumlah tokoh publik mengenai potensi terjadinya kekacauan atau chaos pada pertengahan 2026 menuai respons kritis. Wakil Ketua Umum Partai Golkar bidang kebijakan publik, Idrus Marham, menilai narasi yang menyebut waktu secara spesifik berpotensi memicu keresahan dan membentuk ekspektasi kolektif yang negatif di tengah masyarakat.
“Dalam kondisi bangsa seperti sekarang ini, sejatinya kita harus berkontribusi dalam menciptakan situasi kondusif yang menenangkan rakyat. Jangan memanas-manasi. Jangan menciptakan kondisi yang membuat rakyat semakin panik dan marah,” ujar Idrus di Jakarta, dikutip melalui keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Idrus mengingatkan, di tengah situasi nasional yang memerlukan stabilitas, para tokoh bangsa seharusnya menyampaikan pandangan yang menenangkan publik. Ia menekankan narasi dengan tingkat kepastian tinggi mengenai kerusuhan dapat memengaruhi perilaku antisipatif masyarakat yang pada akhirnya merugikan sektor ekonomi dan sosial.
Ia juga mencurigai adanya motif tertentu di balik masifnya narasi pesimisme tersebut. Idrus menyayangkan jika isu ketidakstabilan sengaja digulirkan sebagai instrumen tekanan politik atau ekonomi oleh pihak-pihak yang kepentingannya terganggu.
“Kalau sebuah pernyataan sudah menentukan akan terjadi sesuatu, itu bukan lagi prediksi. Itu seperti sudah ada skenario dan target operasi,” ucapnya.
Mantan Sekjen Golkar itu menekankan pentingnya disiplin komunikasi bagi tokoh publik. Menurutnya, penyebaran isu chaos yang tidak terukur hanya akan membuka ruang bagi pihak tertentu untuk mengganggu stabilitas nasional yang sedang dijaga ketat oleh pemerintah.
Idrus menilai menjaga kepercayaan masyarakat merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional. Karena itu, ia meminta seluruh elemen bangsa tetap berada dalam satu barisan untuk menjaga iklim politik dan ekonomi yang kondusif.
Di sisi lain, Idrus menyoroti upaya pemerintah mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tengah tekanan harga minyak dunia. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bukti keberpihakan pada rakyat yang seharusnya didukung para elite politik, bukan dirongrong dengan isu yang memanaskan suasana.
“Pemerintah sudah mengambil langkah untuk tidak menaikkan BBM, justru ada narasi yang seolah-olah mendorong kondisi menjadi tidak stabil. Ini yang harus kita hindari,” tegasnya.
Idrus juga menilai kritik yang mendorong kenaikan harga BBM tidak tepat saat ini. “Kalau harga dinaikkan kan risikonya di rakyat? Di pemerintah juga,” imbuhnya.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya turut menepis narasi negatif yang menyebut Indonesia akan mengalami chaos dalam waktu dekat. Ia menyatakan narasi itu tidak benar dan tidak berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Saya mau luruskan, itu adalah narasi yang keliru. Tidak ada itu chaos-chaos. Yang ada adalah semuanya terkendali,” ujar Teddy dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 10 April 2026.

