Bagi ilustrator asal Palembang, Yudistira Wiranata, gambar bukan sekadar karya visual. Melalui garis tegas dan warna kontras yang kerap ia unggah di akun resmi Diskkomik, Yudistira menyelipkan kegelisahan tentang ketidakadilan sosial, kritik terhadap kebijakan, hingga kekhawatiran atas masa depan industri kreatif di daerah.
Selama empat tahun terakhir, Yudistira konsisten mengangkat isu sosial lewat ilustrasi. Ia bahkan memilih meninggalkan pekerjaan tetap sebagai desainer di sebuah agensi dan kini menekuni jalur freelance dari rumah.
“Saya sudah resign dari kerjaan di agensi. Sekarang fokus freelance dari rumah. Karena penginnya mobile, bisa ke mana pun,” kata Yudistira saat ditemui pada Senin, 13 April 2026, di pameran tunggalnya bertajuk Eksibisi di Toko Fotokopi.
Keputusan itu, menurut Yudistira, membuatnya lebih leluasa merespons isu-isu yang ia anggap penting. Ia menyebut gambar sebagai medium paling jujur untuk menyuarakan keresahan.
Ide-ide karyanya, kata dia, sering berangkat dari kebiasaan sederhana: membaca berita dan mengamati situasi sosial di sekitarnya. “Kalau keresahan itu enggak dikeluarin, rasanya kurang lega. Makanya saya berani bersuara lewat karya,” ujarnya.
Yudistira menilai diam terhadap ketidakadilan bukanlah pilihan. Ia percaya kritik sosial perlu terus disuarakan, termasuk melalui medium visual. “Kalau diam, menurut saya itu jahat. Kita jadi ikut menerima aturan yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” kata dia.
Serangan komentar massal di ruang digital
Namun, keberaniannya menyampaikan kritik tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa kesempatan, karya-karyanya justru diserang komentar massal dari akun anonim atau buzzer.
Serangan itu muncul dalam bentuk komentar promosi yang membanjiri kolom diskusi sehingga mengalihkan perhatian dari isi kritik. “Kadang ada ratusan komentar aneh masuk, misalnya promosi judi online. Itu bikin fokus orang jadi terpecah,” ucapnya.
Meski demikian, Yudistira memilih tetap melanjutkan karya-karyanya. Ia menganggap risiko tersebut sebagai bagian dari realitas berkarya di era digital. “Sebagai orang yang bergerak di bidang kreatif media sosial dengan kritik sosial juga, itu udah sepaket dengan risiko-risiko yang harus ditanggung,” tuturnya.
Dari merchandise band hingga sampul buku
Perjalanan Yudistira di dunia ilustrasi bermula dari lingkaran musik independen di Jakarta dan Palembang. Ia lebih dulu dikenal melalui desain merchandise band, mulai dari kaos hingga artwork rilisan musik.
“Biasanya saya desain buat teman-teman band, seperti sampul kaset album yang mereka punya, atau juga perintilan-perintilan band lainnya,” kata Yudistira.
Belakangan, karyanya merambah dunia literasi. Sejumlah penerbit dan penulis meminta desain sampul buku dengan gaya visual khas diskomik. “Yang sudah dipakai mungkin hampir sepuluh sampul buku. Banyak yang bertema sejarah,” ujarnya.
Salah satu buku yang sampulnya ia desain adalah Mereka Hilang Tak Kembali - Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 yang ditulis oleh Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Wasista.
Minat Yudistira pada sampul buku berkaitan dengan kebiasaannya mengoleksi buku. Ia juga menyebut ketertarikannya pada desain komik tumbuh sejak kecil, saat membaca komik yang ia pinjam dari kakaknya.
“Dulu waktu kecil, suka baca komic turunan dari abang. Atau aku pinjam koleksi-koleksi terbarunya. Akhirnya memang tertarik dengan desain-desain komic itu sendiri. Ditambah juga ada beberapa ilustrator yang aku suka dengan desain yang genre-nya sama,” katanya.
Pameran tunggal perdana di Palembang
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan kreatifnya adalah pameran tunggal pertama yang berlangsung sejak Sabtu, 11 April 2026 hingga Senin, 19 April 2026. Pameran tersebut menjadi ruang bagi Yudistira menampilkan puluhan karya yang selama ini lebih banyak tersebar di media digital.
“Ini eksibisi tunggal pertama saya, yang saya buka di sebuah Toko Fotokopi Universitas IBA Palembang. Selama ini pernah ikut pameran kolaborasi saja, tapi belum pernah sendiri,” ucapnya.
Menurut Yudistira, pameran itu juga menjadi upaya menghidupkan kembali kegiatan seni ilustrasi di Palembang. Ia menilai ruang bagi ilustrator di daerah masih terbatas, baik dari sisi fasilitas maupun dukungan ekosistem.
“Saya pengin mengenalkan kegiatan seperti ini di Palembang. Karena, sudah jarang ada eksibisi ilustrasi khususnya di Palembang,” katanya.
Sorotan atas minim dukungan industri kreatif daerah
Yudistira menilai persoalan utama industri kreatif di Indonesia bukan pada kemampuan pelaku, melainkan kurangnya dukungan sistem dan apresiasi. Ia menyebut potensi kreator di Indonesia besar, tetapi kesempatan berkembang belum merata. “Kalau skill, orang Indonesia jago-jago. Tapi dukungannya kurang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas kreatif antara kota besar dan daerah. “Di Jakarta banyak ruang kreatif, kita bisa lihat Blok M atau tempat lainnya, mereka bisa punya agenda kreatif tersendiri. Kalau di daerah masih jarang dilirik,” kata dia.
Selain itu, ia menilai proses birokrasi yang rumit kerap menjadi hambatan bagi pelaku seni yang hendak menggelar acara. “Kalau bikin acara kreatif, sering dipersulit perizinannya,” tuturnya.
Ilustrasi sebagai bentuk perlawanan
Bagi Yudistira, menggambar bukan semata soal estetika atau hiburan. Ia memandang karya visual sebagai ruang untuk menyampaikan kritik sekaligus merekam kegelisahan zaman, dan percaya ilustrasi dapat menjadi alat komunikasi yang kuat meski tanpa banyak kata.
“Karya itu penting. Lewat gambar, kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan dan lihat,” ucapnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, ia tetap optimistis ruang kreatif di daerah bisa tumbuh, meski membutuhkan waktu. Yudistira berharap semakin banyak seniman berani bersuara dan menciptakan ruang kreatif secara mandiri. “Kalau enggak kita yang mulai, siapa lagi?” kata dia.

