Kuasa Hukum Rachel Vennya Tanggapi Isu Dugaan KDRT Usai Foto Wajah Diduga Lebam Viral

Kuasa Hukum Rachel Vennya Tanggapi Isu Dugaan KDRT Usai Foto Wajah Diduga Lebam Viral

Unggahan terbaru selebgram Rachel Vennya yang memperlihatkan kondisi wajah diduga tampak lebam memicu perhatian publik di media sosial. Foto tersebut memunculkan kekhawatiran sekaligus spekulasi warganet, termasuk dugaan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Seiring isu yang cepat menyebar di berbagai platform digital, sejumlah warganet mempertanyakan kondisi Rachel dan mendesak adanya klarifikasi terkait dugaan tersebut.

Di tengah ramainya perbincangan, kuasa hukum Rachel, Sangun Ragahdo, memberikan tanggapan saat ditemui di Polda Metro Jaya pada Senin (6/4/2026). Sangun menyatakan belum dapat memastikan kebenaran dugaan kekerasan karena belum memperoleh informasi langsung dari kliennya.

“Saya kalau dugaan kekerasan, jujur ya ini kalau saya sih, saya belum monitor. Karena juga saya kan enggak 24/7 sama klien saya, sama Rachel juga,” ujar Sangun.

Ia menegaskan hingga saat ini belum menerima laporan atau konfirmasi langsung dari Rachel terkait dugaan KDRT tersebut. Sangun juga mengaku tidak mengikuti perkembangan isu di media sosial secara intens.

“Cuma hingga saat ini saya belum dapat info langsung dari yang bersangkutan. Kayaknya sampai saat ini sih enggak ada, cuma apakah itu ada atau tidak, saya enggak tahu,” katanya.

Sangun menyampaikan pihaknya masih menunggu klarifikasi langsung dari Rachel sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Ia menambahkan fokus utamanya saat ini adalah penanganan persoalan dari sisi hukum, bukan spekulasi yang berkembang di media sosial.

“Wah, saya enggak monitor juga kalau itu. Pokoknya terkait dengan isu-isu sosial media, saya enggak terlalu mengikuti juga, karena saya mau fokus terkait dengan ya permasalahan ini secara hukumnya seperti apa,” ucapnya.

Meski demikian, Sangun menyatakan tidak menutup kemungkinan mengambil tindakan apabila dugaan kekerasan tersebut terbukti benar. Menurutnya, segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan dan perlu ditindaklanjuti secara serius.

“Ya kalau misalnya betul ada kekerasan, ya sudah barang tentu tidak boleh kita diamkan dong. Cuma itu kan harus dikonfirmasi lagi, betul enggak apakah itu ternyata hoax atau enggak. Gitu sih,” ujarnya.