Pekerja Sosial dan Sosiologi Keluarga, Pendekatan untuk Menangani Masalah Sosial Remaja

Pekerja Sosial dan Sosiologi Keluarga, Pendekatan untuk Menangani Masalah Sosial Remaja

Masa remaja kerap digambarkan sebagai periode penuh gejolak. Emosi yang naik turun, proses pencarian jati diri, hingga godaan pergaulan bebas seperti kumpul kebo atau kehamilan di luar nikah menjadi tantangan yang tidak jarang membuat keluarga berada dalam tekanan.

Ketika persoalan itu muncul, respons lingkungan sering kali tidak selalu membantu. Penghakiman dan pengusiran kerap menjadi reaksi awal, sehingga remaja dan keluarganya justru semakin terpojok.

Dalam situasi seperti itu, peran Pekerja Sosial (Peksos) dipandang sebagai jembatan penolong. Pendekatan yang digunakan tidak berangkat dari penghukuman, melainkan dari pemahaman melalui “kacamata” Sosiologi Keluarga. Peksos melihat remaja yang terlibat masalah sosial bukan sebagai pihak yang semata-mata harus disalahkan, tetapi sebagai bagian dari sistem keluarga yang sedang tidak stabil.

Dengan perspektif tersebut, Peksos menilai persoalan remaja tidak berdiri sendiri. Mereka menelusuri akar persoalan di lingkungan rumah: apakah komunikasi keluarga tersendat, apakah ada peran ayah atau ibu yang tidak berjalan, atau apakah terdapat trauma antargenerasi yang belum terselesaikan dan memengaruhi pola pengasuhan serta relasi di keluarga.

Salah satu alat yang digunakan adalah genogram, yakni pemetaan riwayat keluarga hingga tiga generasi. Melalui genogram, Peksos berupaya membaca pola yang mungkin berulang dari masa lalu, termasuk perilaku berisiko atau masalah serupa yang pernah terjadi. Pemahaman atas pola itu dipakai untuk membantu keluarga memutus rantai persoalan agar tidak berlanjut ke generasi berikutnya.

Selain pemetaan, Peksos juga membantu menata ulang peran dalam keluarga. Ketika remaja menghadapi masalah, rumah kerap menjadi ruang yang penuh ketegangan—orang tua saling menyalahkan, sementara anak merasa makin terasing. Peksos berupaya memfasilitasi agar peran keluarga kembali berjalan: ayah diharapkan hadir sebagai pelindung, ibu sebagai pendengar, dan anak kembali merasakan rumah sebagai tempat yang aman.

Di sisi lain, stigma dari masyarakat dapat memperberat situasi. Karena itu, Peksos mendorong perubahan dari stigma menuju dukungan sosial. Dalam pendekatan Sosiologi Keluarga, dukungan sosial dipandang penting untuk pemulihan. Peksos dapat berperan sebagai mediator yang menghubungkan kembali keluarga dengan lingkungan sosialnya, sekaligus memastikan hak remaja dan calon bayi tetap terlindungi dalam aspek hukum dan kesejahteraan.

Dalam kerangka ini, keluarga disebut sebagai unit sosial terkecil yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seseorang. Keluarga merupakan agen sosialisasi pertama, namun juga dapat menjadi sumber konflik utama. Karena itu, pemahaman Sosiologi Keluarga dinilai membantu Peksos melakukan intervensi yang lebih efektif dengan menempatkan akar masalah klien dalam konteks relasi dan dinamika keluarga.

Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa persoalan keluarga kerap mencerminkan isu sosial yang lebih luas. Tanpa pemahaman itu, intervensi berisiko tidak tepat sasaran atau bahkan memperburuk keadaan. Dengan landasan Sosiologi Keluarga, Peksos diarahkan untuk meningkatkan efektivitas layanan, mendorong perubahan yang lebih struktural daripada sekadar bantuan sementara, serta memberdayakan keluarga agar memiliki ketahanan jangka panjang.

— Merias Rohliharta Girsang (250902011) dan Regina Sifra Melowdi (250902063)