Keramaian memadati jalanan di sekitar Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, pada malam puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-155 kota tersebut. Orang tua, anak muda, hingga anak-anak terlihat berjalan berkelompok maupun melintas dengan kendaraan. Suasana tetap ramai seperti malam hari, meski waktu telah menunjukkan pukul 01.00 WIB.
Malam 25 April menjadi penutup rangkaian perayaan yang puncaknya digelar di panggung utama Lapangan Adam Malik. HUT Pematangsiantar sendiri jatuh pada 24 April. Rangkaian kegiatan perayaan telah dimulai sejak 18 April, di antaranya Festival Budaya Simalungun di kawasan Monumen Raja Sang Naualuh Damanik, pertunjukan tarian tradisional, lomba pidato, lomba mewarnai, hingga busana adat.
Karnaval juga digelar pada 23–24 April dengan ratusan peserta. Drumband, barongsai, serta kendaraan hias berparade di jalanan, melibatkan sekolah, komunitas, dan warga. Pada malam puncak, berbagai genre musik ditampilkan, mulai dari RAP Trio, Siantar Rap Foundation, The Brave, Punxgoaran, hingga Faris Adam. Ribuan penonton ikut bernyanyi, menandai perayaan yang terbuka bagi warga dan pendatang.
Di balik kemeriahan, Pematangsiantar yang telah berusia lebih dari satu setengah abad masih menghadapi pekerjaan rumah dalam mencapai kemapanan sebagai kota. Di tengah perayaan, tidak tampak keputusan atau langkah signifikan dari Pemerintah Kota yang menonjol terkait pembenahan ekonomi, penataan tata ruang, atau pengembangan pendidikan. Perayaan lebih terlihat sebagai seremoni ketimbang momentum refleksi.
Seorang warga, Juhn Sinaga, yang delapan tahun merantau di Bali dan kembali ke Pematangsiantar, menyaksikan keramaian bertahan hingga sekitar pukul 02.30 WIB. Ia menilai kepadatan warga terasa meningkat dibanding sebelum ia merantau.
Keramaian hingga dini hari itu sejalan dengan meningkatnya kepadatan yang belakangan semakin terasa. Jumlah penduduk Pematangsiantar disebut sekitar 277.054 jiwa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam 14 tahun terjadi peningkatan penduduk lebih dari 42 ribu jiwa. Meski demikian, pergerakan kendaraan disebut belum sepenuhnya sering tersendat kemacetan total.
Pertumbuhan penduduk tidak semata didorong kelahiran. Angka kelahiran anak tercatat naik turun dari tahun ke tahun, sementara rata-rata jumlah anak per perempuan berada di kisaran dua. Pertumbuhan juga dipengaruhi perpindahan penduduk dari daerah sekitar ke kota serta meningkatnya angka harapan hidup.
Konsekuensi pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya kebutuhan ekonomi, terutama penyediaan lapangan kerja dan ruang aktivitas yang memadai. Dalam keseharian, perdagangan, jasa, dan interaksi warga menjadi tulang punggung kehidupan kota.
BPS mencatat tingkat kemiskinan di Pematangsiantar menurun dari 7,24 persen pada 2023 menjadi 7,20 persen pada 2024, lalu turun lebih jauh pada 2025 menjadi 6,24 persen atau sekitar 16,53 ribu jiwa. Kondisi ketenagakerjaan juga disebut membaik, dengan tingkat pengangguran terbuka menurun sejalan tren di Sumatera Utara yang berada di kisaran 5,32 persen pada 2025.
Namun, aktivitas ekonomi dinilai masih bergantung pada keramaian dan lokasi. Pengamat ekonomi Darwin Damanik menyebut struktur ekonomi Pematangsiantar didominasi sektor jasa, sehingga interaksi antarwarga menjadi penggerak utama. Ia menilai pemisahan ruang ekonomi secara kaku, misalnya memindahkan pedagang kaki lima ke lokasi yang jauh dari keramaian, berisiko mematikan usaha karena kehilangan akses terhadap arus pengunjung.
Kecenderungan warga yang tetap bertumpu pada pusat-pusat lama juga terlihat pada pilihan berbelanja di Pasar Horas dan Pasar Dwikora. Upaya menghadirkan pasar baru pada 2017 melalui Pasar Tojai Baru disebut pernah dilakukan untuk penataan ruang kota, namun terbengkalai karena masyarakat lebih terbiasa berbelanja di pusat keramaian yang sudah lama dikenal.
Pertumbuhan penduduk dan ekonomi, di sisi lain, belum sepenuhnya diimbangi penataan ruang. Salah satu sorotan adalah keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH). Saat ini, RTH publik yang dikenal antara lain Lapangan Merdeka, Lapangan Adam Malik, Taman Kehati, dan Taman Beo, sementara ruang privat mencakup pekarangan rumah serta lahan institusi di berbagai titik.
Ketentuan nasional menetapkan setiap kota seharusnya memiliki minimal 30 persen RTH, terdiri dari 20 persen ruang publik dan 10 persen ruang privat. Di Pematangsiantar yang luasnya sekitar 7.997 hektare, ketersediaan RTH tercatat sekitar 1.857,48 hektare atau setara 23,22 persen dari total wilayah, masih di bawah standar nasional.
Pengamat tata ruang Robert Tua Siregar menekankan peran RTH dalam perencanaan kota karena menghubungkan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi. RTH, menurutnya, berfungsi sebagai resapan air dan penyejuk udara, menjadi ruang interaksi warga, serta dapat meningkatkan daya tarik kota. Karena itu, pengelolaan RTH dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan seiring kebutuhan kota yang terus berkembang.
Di tengah kepadatan dan aktivitas yang meningkat, pendidikan juga menjadi faktor penting bagi arah perkembangan kota. Dalam satu dekade terakhir, tingkat pendidikan masyarakat menunjukkan perubahan. Sekitar 2010, sebagian besar penduduk disebut belum sepenuhnya menamatkan pendidikan tingkat SMA. Pada 2024, sekitar 36,5 persen penduduk atau lebih dari seratus ribu jiwa telah menamatkan SMA, dan lulusan SMA mendominasi tenaga kerja hingga 50,03 persen. Sementara itu, penduduk lulusan pendidikan tinggi masih berada di kisaran 11 persen.
Pengamat pendidikan Hendra Simanjuntak menilai ketiadaan universitas negeri di Pematangsiantar menjadi salah satu kelemahan pengembangan pendidikan. Ia menyebut hal itu menunjukkan pengembangan pendidikan belum digarap serius, padahal Pematangsiantar pernah dikenal sebagai kota pendidikan karena sekolah-sekolah telah ada lebih awal dibanding daerah sekitarnya.
Pada pagi 26 April 2026, panggung konser HUT ke-155 mulai dibongkar dan keramaian yang sempat bertahan hingga dini hari tak lagi terlihat. Namun, usia 155 tahun dinilai bukan akhir perjalanan. Pertumbuhan penduduk, dinamika ekonomi, kebutuhan penataan ruang, dan penguatan pendidikan menjadi tantangan yang akan menentukan apakah perubahan menjadi beban atau justru kekuatan bagi masa depan Pematangsiantar.

