Percakapan mengenai isu energi di media sosial ramai dibahas dan didominasi sentimen negatif, seiring meningkatnya ketidakpastian global sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026.
Berdasarkan laporan Databoks “Social Media Listening Report 2026” yang dikutip Rabu (23/4), terdapat 7.428 percakapan terkait energi di platform X dalam periode 28 Februari hingga 20 April 2026. Dari jumlah tersebut, 61,4% dikategorikan bersentimen negatif.
Analisis percakapan di X menunjukkan kekhawatiran utama publik berkisar pada lonjakan harga minyak global yang dikaitkan dengan tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar. Selain itu, muncul pula tudingan terhadap aktor internasional sebagai pemicu krisis energi, yang memperkuat narasi kecemasan terhadap dampak ekonomi yang lebih luas.
Konflik di kawasan Timur Tengah turut memperbesar kekhawatiran pasar karena wilayah tersebut disebut sebagai pusat produksi dan distribusi energi dunia. Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat disebut menghambat tersalurnya pasokan energi dari Teluk Persia ke pasar global akibat penutupan Selat Hormuz. Jalur ini disebut menjadi rute pengiriman bagi seperlima pasokan minyak dunia setiap hari, sehingga memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Sentimen negatif juga terlihat di platform lain. Di Instagram, porsi percakapan negatif mencapai 58,6%, sementara sentimen positif 21,8% dan netral 19,6%. Percakapan negatif di Instagram menyoroti kritik terhadap harga BBM domestik yang dinilai tetap tinggi meski harga minyak dunia menurun, serta kekhawatiran potensi gangguan distribusi energi di Asia Tenggara yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan.
Di TikTok, sentimen negatif tercatat sebesar 53,4%. Percakapan di platform ini banyak berisi sindiran dan kritik terhadap kenaikan harga BBM yang dianggap membebani masyarakat dan menekan daya beli. Selain itu, pengguna juga menyoroti dampak tekanan energi global terhadap industri dan ekonomi, termasuk perlambatan aktivitas sektor manufaktur.
Meski demikian, percakapan di X tidak sepenuhnya bernada pesimistis. Laporan yang sama mencatat sentimen netral sebesar 27,8% dan sentimen positif 10,9%. Narasi positif antara lain menampilkan optimisme dan kebanggaan atas stabilitas harga BBM di Indonesia di tengah gejolak pasar energi global, disertai dukungan terhadap kebijakan pemerintah dan figur publik dalam mengelola dinamika energi. Sejumlah percakapan juga mengangkat cerita tentang upaya penghematan energi di tingkat masyarakat.

