SPPG Sukosari Lor Jelaskan Rincian Anggaran MBG Rp15 Ribu per Porsi Selama Ramadan 2026

SPPG Sukosari Lor Jelaskan Rincian Anggaran MBG Rp15 Ribu per Porsi Selama Ramadan 2026

Bondowoso – Perdebatan di masyarakat terkait anggaran Rp15 ribu per porsi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 di Bondowoso mendapat penjelasan resmi. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukosari Lor membeberkan rincian penggunaan dana sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas program.

Klarifikasi disampaikan Akuntan SPPG Sukosari Lor, Bahtiar Adi Darmawan, pada Jumat (27/2/2026). Bahtiar menegaskan bahwa angka Rp15.000 yang beredar bukan semata-mata biaya pembelian bahan makanan, melainkan total pagu anggaran yang mencakup sejumlah komponen pendukung.

“Rp15.000 itu adalah total pagu. Di dalamnya ada pembagian untuk makanan, operasional, dan sarana pendukung agar layanan tetap berjalan optimal,” ujar Bahtiar.

Menurut Bahtiar, besaran alokasi untuk bahan makanan berbeda berdasarkan jenjang penerima manfaat. Untuk balita, PAUD, TK, serta siswa SD kelas 1 hingga kelas 3, anggaran bahan makanan berada di kisaran Rp8.000 per porsi. Sementara untuk siswa SD kelas 4 hingga 6, SMP, dan SMA, anggaran makanan sekitar Rp10.000 per paket.

Sisa anggaran disebut digunakan untuk kebutuhan operasional dan sarana penunjang. Sebanyak Rp3.000 dialokasikan untuk biaya operasional seperti distribusi, tenaga kerja, dan pengemasan. Adapun Rp2.000 lainnya dialokasikan untuk sewa tempat serta penyediaan sarana dan prasarana.

“Komponen operasional ini penting agar makanan sampai tepat waktu, higienis, dan sesuai standar layanan. Jadi tidak bisa seluruhnya dihitung sebagai biaya bahan pangan saja,” katanya.

Program MBG Ramadan 2026 di Bondowoso dirancang dalam bentuk paket menu kering yang disesuaikan dengan kebutuhan selama bulan puasa. Skema ini dipilih agar makanan lebih tahan lama dan memudahkan distribusi kepada penerima manfaat.

SPPG Sukosari Lor juga menyatakan siap mempublikasikan rincian menu harian yang dilengkapi nilai Angka Kecukupan Gizi (AKG) serta harga per item bahan. Langkah ini, menurut Bahtiar, dimaksudkan untuk mencegah kesalahpahaman sekaligus membuka ruang pengawasan masyarakat.

“Kami ingin masyarakat tahu persis apa saja isi paketnya, berapa nilai gizinya, dan berapa harga setiap komponennya. Transparansi ini penting agar program tetap dipercaya,” ujar Bahtiar.

Selain menargetkan pemenuhan gizi anak-anak dan pelajar, program ini juga disebut berdampak pada perekonomian lokal. SPPG menyampaikan bahan pangan sebagian besar diserap dari petani dan pelaku usaha sekitar desa, sementara tenaga kerja pengolahan dan distribusi melibatkan warga setempat.

Bahtiar berharap penjelasan tersebut dapat meredam polemik dan memberikan pemahaman utuh mengenai struktur anggaran MBG. Ia menegaskan pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan untuk penyempurnaan program.

“Kami terbuka untuk diawasi. Tujuan utama kami adalah memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang layak, khususnya di bulan Ramadan,” pungkasnya.