Viral Keluhan Santri soal Erosi Kali Cipamingkis, Dedi Mulyadi Janji Benahi Tata Ruang Bogor

Viral Keluhan Santri soal Erosi Kali Cipamingkis, Dedi Mulyadi Janji Benahi Tata Ruang Bogor

Seorang santri menyampaikan keluhan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait kerusakan lingkungan di Kampung Parakanpanjang, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Keluhan itu menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.

Dalam video yang diunggah akun TikTok @azkiaaaastecuu, santri tersebut memperlihatkan kondisi Kali Cipamingkis. Ia menyebut ancaman utama yang dirasakan warga adalah erosi yang disebut semakin parah ketika curah hujan meningkat.

“Ini air sungai Kali Cipamingkis yang semakin hari, semakin curah hujan tinggi, terus semakin erosi,” ucapnya dalam video yang dikutip pada Selasa (05/05/2026).

Santri itu juga menyinggung maraknya pembangunan tempat wisata di kawasan perbukitan yang dinilai memicu penebangan hutan. Menurutnya, kondisi tersebut memperburuk lingkungan dan meningkatkan risiko bencana bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi.

“Kita yang ada di sini terancam sekali pak Dedi, kenapa? Karena di sana, di bukit-bukit sana sudah banyak sekali wisata, tempat-tempat wisata yang dibangun sehingga tempat hutan ditebang,” katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Dedi Mulyadi merespons melalui unggahan video di akun TikTok pribadinya @dedimulyadiofficial. Ia menyatakan memahami persoalan kerusakan alam di Kabupaten Bogor, yang menurutnya berkaitan dengan kejadian banjir dan longsor.

“Terima kasih ya. Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Maka sesuatu hal yang memang agak unik, Bogor hari ini banyak banjir, longsor,” ujar Dedi Mulyadi.

Dedi menilai salah satu pemicu bencana yang berulang adalah perubahan tata ruang yang tidak sesuai. Ia mengatakan kawasan hijau yang semestinya menjadi daerah resapan air dan penahan longsor di wilayah perbukitan justru beralih fungsi.

“Masalahnya ada pada perubahan tata ruang di Kabupaten Bogor. Kawasan hijau yang semestinya menjadi daerah resapan air dan penahan longsor di wilayah perbukitan justru dialihfungsikan,” ucapnya.

Ia menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah berupaya mengembalikan fungsi ruang agar sesuai peruntukannya, termasuk menjaga gunung, aliran sungai, dan danau.

“Saat ini kami di Pemprov Jawa Barat berusaha mengembalikan tata ruang Bogor, supaya gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak terus berulang,” kata Dedi.

Dedi juga menyoroti perubahan di wilayah Sukamakmur, terutama kawasan perbukitan yang disebut banyak dialihfungsikan menjadi perumahan. Menurutnya, kondisi itu berdampak pada meluapnya aliran sungai, longsor di beberapa titik, hingga banjir di wilayah hilir.

Di akhir pernyataannya, Dedi mengajak berbagai pihak menjaga kelestarian Bogor karena dampaknya dinilai meluas hingga daerah sekitar seperti Bekasi, Karawang, dan Jakarta.

“Kalau ingin Bogor terbebas dari bencana, Bekasi terjaga dari bencana, Karawang terjaga dari bencana, Jakarta terjaga dari bencana, yuk kita bersama-sama jaga wilayah Bogor, jangan hanya menjadi pusat eksploitasi berbagai kepentingan dengan menyampingkan aspek keselamatan dan keasrian alam,” ujarnya.