Lia Istifhama Tekankan Integritas dan Keteladanan untuk Menjaga Demokrasi di Tengah Turunnya Kepercayaan Publik

Lia Istifhama Tekankan Integritas dan Keteladanan untuk Menjaga Demokrasi di Tengah Turunnya Kepercayaan Publik

SURABAYA — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai keteladanan dan integritas menjadi kunci menjaga keberlangsungan demokrasi di tengah menurunnya kepercayaan publik dan maraknya disinformasi.

Menurut Lia, tantangan demokrasi saat ini tidak hanya terkait sistem, tetapi juga perilaku para pihak yang terlibat di dalamnya, termasuk politisi, media, dan masyarakat. Ia menilai situasi tersebut berdampak pada kualitas layanan publik serta partisipasi warga.

“Demokrasi harus dijaga dengan cara yang baik. Kuncinya ada pada integritas, keteladanan, dan bagaimana kita menjaga kepercayaan publik,” ujar Lia, yang akrab disapa Ning Lia.

Ia mengatakan rendahnya kepercayaan masyarakat berpotensi memicu sikap apatis, terutama di kalangan generasi muda. Jika dibiarkan, kondisi itu dinilai dapat melemahkan kontrol publik terhadap kebijakan pemerintah dan pelayanan masyarakat.

Karena itu, Lia menekankan peran media dalam menjaga keseimbangan informasi. Ia menilai penyajian berita yang objektif penting agar masyarakat tidak terjebak disinformasi yang dapat merusak tatanan demokrasi.

“Media harus objektif. Informasi yang benar akan menjadi fondasi kuat bagi masyarakat dalam mengambil sikap,” tegasnya.

Dalam praktiknya, Lia menyebut dirinya konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat, terutama di sektor pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan kepemudaan. Ia juga mengedepankan pendekatan inklusif dan dialogis dengan berbagai elemen, mulai dari pesantren hingga komunitas akar rumput.

Menurutnya, langkah tersebut dapat berdampak pada peningkatan partisipasi publik sekaligus memperkuat hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat. Ia pun mengajak anak muda untuk tidak bersikap apatis.

“Anak muda jangan apatis. Demokrasi adalah tanggung jawab bersama, dan semua harus terlibat aktif menjaganya,” kata Lia.

Kepercayaan publik terhadap Lia, menurut data yang disampaikan, tercermin dari perolehan 2.739.123 suara pada pemilu lalu. Survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) juga mencatat tingkat kepuasan publik sebesar 70,5 persen.

Menutup pernyataannya, Lia menegaskan demokrasi tidak cukup dijaga melalui regulasi semata, melainkan juga memerlukan komitmen moral seluruh elemen bangsa. “Kalau kepercayaan publik terjaga, demokrasi akan tetap kuat,” pungkasnya.