Pakar komunikasi digital Anthony Leong menilai gaya komunikasi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mencerminkan pendekatan yang adaptif dan responsif, sejalan dengan kebutuhan komunikasi pemerintah di era digital. Penilaian itu disampaikan Leong setelah melihat Teddy menghadapi puluhan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat (10/4).
Menurut Leong, kemampuan Teddy melayani pertanyaan dari sekitar 60 wartawan menunjukkan perubahan dalam pola komunikasi pemerintah yang dinilai semakin adaptif di tengah perkembangan ruang digital. Ia menilai situasi tersebut merupakan tekanan komunikasi yang tidak ringan bagi seorang pejabat publik.
Leong menyoroti cara Teddy tetap tenang, jelas, dan terstruktur dalam menjawab berbagai pertanyaan. Ia menilai hal itu menunjukkan kapasitas komunikasi yang kuat, yang tidak hanya terkait kemampuan berbicara, tetapi juga penguasaan substansi, konsistensi pesan, serta kesiapan menghadapi dinamika komunikasi secara real-time.
Dalam penilaiannya, Leong juga menyebut bahwa Seskab yang biasanya jarang tampil, namun sesekali hadir untuk merespons atau menepis isu strategis, dapat menjadi langkah yang tepat dalam kondisi tertentu, terutama saat isu berkembang cepat di ruang publik.
Leong, yang juga Direktur PoliEco Digital Insights Institute (PEDAS), menilai gaya komunikasi Teddy cenderung lebih cair namun tetap berbobot. Ia melihat pendekatan tersebut sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan perilaku audiens, khususnya generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi ruang digital.
Dalam konteks komunikasi digital, Leong menekankan pentingnya kecepatan dan keterbukaan untuk membangun kepercayaan publik. Ia menyebut transparansi yang ditunjukkan secara langsung di hadapan media dapat memengaruhi persepsi kredibilitas pemerintah di mata masyarakat.
Leong menambahkan, audiens digital cenderung menyukai komunikasi yang autentik dan tidak kaku, serta pesan yang langsung pada inti persoalan. Ia menyebut tingkat keterlibatan publik lebih tinggi pada pesan yang terasa natural namun tetap informatif, dan menilai pendekatan Teddy selaras dengan karakter komunikasi era digital.
Selain dampak ke publik, Leong—yang juga Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bidang Sinergitas Danantara, BUMN, dan BUMD—menilai pola komunikasi terbuka dapat berimplikasi pada komunikasi internal pemerintahan. Ia menilai kejelasan pesan dan keterbukaan dapat memperkuat koordinasi antar kementerian dan lembaga.
Menurutnya, komunikasi yang efisien dan tidak berbelit berpotensi mengurangi miskomunikasi serta mempercepat proses pengambilan keputusan di lingkungan birokrasi. Dalam perspektif komunikasi organisasi, ia menilai transparansi dan kejelasan pesan merupakan fondasi koordinasi yang efektif.
Leong menyebut, jika pola komunikasi seperti ini diterapkan secara konsisten, dampaknya dapat terlihat pada kinerja dan sinergi antar lembaga pemerintahan. Ia menilai apa yang ditunjukkan Seskab merupakan bagian dari transformasi komunikasi pemerintah menuju model yang lebih modern, interaktif, dan berbasis kedekatan dengan masyarakat.

