JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menghadapi sorotan publik atas keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), sebuah badan yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketika menerima undangan AS pada 22 Januari, Prabowo menyatakan partisipasi Indonesia sebagai strategi untuk mendorong perdamaian dunia yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung global sebagai kekuatan menengah.
Namun, keraguan terhadap keterlibatan Indonesia dalam BoP menguat setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran serta insiden tewasnya tiga anggota TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Indonesia di Lebanon pada akhir Maret. BoP sendiri mulanya dibentuk untuk mengawasi rekonstruksi pascakonflik di Gaza.
Di tengah perkembangan tersebut, desakan dari sejumlah politisi—termasuk dari koalisi Prabowo—muncul agar pemerintah meninjau ulang keanggotaan Indonesia di BoP. Sejumlah pengamat menilai Prabowo berisiko terjepit antara tekanan domestik dan kebutuhan menjaga hubungan dengan Amerika Serikat.
“Board of Peace telah berubah menjadi Board of Problems,” kata Teuku Rezasyah, dosen hubungan internasional di President University.
Sentimen publik tercermin dalam survei yang dilakukan tiga lembaga riset Indonesia pada bulan lalu. Survei itu mencatat 50,9 persen dari lebih dari 1.000 responden menyatakan tidak setuju Indonesia bergabung dengan BoP. Sementara 33,8 persen mendukung, dan sisanya menyatakan netral. Temuan tersebut dirilis pada 2 April oleh Indikator Politik Indonesia, Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Hasil itu menunjukkan sedikit penurunan dukungan dibanding survei sebelumnya. Sebelum perang AS-Israel melawan Iran, Media Survei Nasional (Median) melakukan survei pada 10–14 Februari terhadap 1.200 responden. Dalam survei tersebut, 50,4 persen responden tidak setuju Indonesia bergabung dengan BoP, sedangkan 34,8 persen menyatakan mendukung.
Survei terbaru dilakukan pada 12–31 Maret, sehingga sebagian respons dikumpulkan sebelum insiden tewasnya tiga anggota TNI di Lebanon pada 29 dan 30 Maret. Sejumlah ahli menilai dukungan terhadap BoP kemungkinan lebih rendah bila survei dilakukan setelah insiden itu.
Dalam investigasinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan proyektil yang ditembakkan dari tank Israel menyebabkan tewasnya seorang anggota TNI pada 29 Maret. Dua anggota TNI lainnya tewas pada 30 Maret akibat alat peledak rakitan yang menurut PBB kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.

