Penampilan The Strokes di festival Coachella tahun ini memunculkan sorotan bukan hanya karena kejutan musikal, tetapi juga karena pesan politik yang disisipkan di atas panggung. Saat membawakan lagu “Oblivius”, grup band asal Amerika Serikat itu tiba-tiba menampilkan video penyerangan terhadap universitas di Gaza.
Melalui aksi tersebut, The Strokes seolah mengingatkan penonton di lokasi maupun yang menyaksikan lewat streaming bahwa di tengah perayaan festival, ada bagian lain dunia yang sedang mengalami serangan dan kehancuran. Pada momen yang sama, vokalis Julian Casablancas juga melontarkan pertanyaan kepada audiens, “What side are you standing on?” (“Kamu berpihak pada siapa?”).
Fenomena seniman menyuarakan sikap politik lewat karya dan panggung hiburan sebenarnya bukan hal baru. Di kancah internasional, Rage Against the Machine dikenal vokal terhadap isu politik. Di Indonesia, musisi Iwan Fals kerap menyampaikan kritik terhadap pemerintah melalui lagu-lagunya. Dari dunia stand-up comedy, Pandji Pragiwaksono juga beberapa kali menyinggung kebijakan pemerintah dalam materinya.
Belakangan, semakin banyak selebritas dan seniman yang tampil lebih terbuka menyatakan pandangan politik. Fenomena ini dibahas dalam program SuarAkademia bersama Akhmad Saputra Syarif, peneliti dari Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia.
Menurut Putra, maraknya selebritas yang menyuarakan pandangan politik dari atas panggung merupakan hal positif. Ia menilai penting bagi setiap individu untuk memiliki sikap politik sebagai warga negara, terutama dalam konteks negara demokrasi.
Putra menjelaskan, dalam kerangka Social Identity Theory, tindakan seperti yang dilakukan The Strokes maupun Pandji dapat dipahami sebagai tindakan kolektif, yakni upaya meningkatkan status kelompok ketika mereka merasa terancam. Aspirasi politik yang disampaikan di ruang publik, menurutnya, berpotensi berdampak luas dan memengaruhi opini publik.
Ia juga menilai panggung hiburan menjadi medium yang cukup efektif untuk menyampaikan pandangan politik karena masuk ke ranah afeksi. Musik, visualisasi, humor, dan percakapan dapat melibatkan emosi audiens—sesuatu yang dinilai lebih jarang muncul dalam panggung politik itu sendiri.

